Minggu, 06 Januari 2019

CPNS ( Cerita Perjuangan Nasib Saya)


Minggu, 24 Oktober 2010.



Oh.. betapa nikmatnya telah ada hari minggu, yang karenanya, kebanyakan
orang biasa libur bekerja. Seperti halnya denganku, seragam warna pink
yang terlalu sering menyerap keringatku selama hari Senin sampai Jum’at,
yang sering dilanjut hari Sabtu untuk lembur itupun kutanggalkan di tempat
jemuran. Hari minggu juga telah memaklumi bangun siangku. Jika pada hari
kerja aku harus segera mandi setelah shalat shubuh untuk mengejar bus
jemputan karyawan, maka di hari minggu, saat-saat itu tergantikan oleh
tidur kedua, melamun, atau menghabiskan pulsa dengan cara menelfon
orang-orang yang jauh disana, terutama Ibuku yang selalu mencemaskanku
karena aku merantau. Beginilah yang namanya buruh pabrik, yang ber-tuan
orang Jepang di negeriku tercinta ini, di kawasan industri daerah
Bekasi.

Teringat dalam fikiranku, besok adalah hari Senin, hari dimana aku harus
mengambil kartu ujian seleksi CPNS di Ibukota meskipun aku harus berangkat
kerja dari pagi buta sampai jam 5 sore. Kartu ujian itu akan dipakai
sebagai syarat mengikuti tes tertulis di hari Selasa. Dan aku tidak
mungkin meninggalkan pekerjaanku selama 2 hari berturut hanya karena ada
kepentingan pribadi. Aku mencoba berunding dengan akal sehatku, dan kami
memutuskan untuk cuti hanya di hari Selasa dan mengambil kartu ujian
sepulang kerja di hari Senin karena kebetulan panitia seleksi memberi
layanan pengambilan kartu sampai jam 8 malam. Mungkin karena peserta test
berasal dari Sabang sampai Merauke.
Minggu sore, tepatnya pukul 17:00 WIB, aku niatkan untuk melakukan survei
lokasi pengambilan kartu yang juga merupakan lokasi test tertulis. Dan
mungkin lebih tepatnya adalah simulasi karena aku berangkat dari kantor
tempatku bekerja pada jam yang sama dengan jam pulang kerja.
Dengan motor pinjaman teman kantor, aku melaju menuju halte bus Mayasari
yang kata orang, bus itu akan mengantarku sampai depan gerbang lokasi
ujian. Ternyata begitu banyak pilihan bus Mayasari untuk menuju lokasi
tujuanku itu. Terima kasih Dinas Perhubungan darat, yang tidak membiarkan
para penumpang bus terlalu lama menunggu akibat terbatasnya keberangkatan
bus, batinku. Dengan nyaman, bus itu telah mengantarku sampai lokasi ujian
pada jam 7 malam, sehingga keputusanku pun semakin bulat untuk mengambil
kartu ujian sepulang kerja.
**
Senin sore pada jam pulang kerja, Bekasi menangis. Benar-benar hal yang
tak pernah terpikirkan olehku karena beberapa hari sebelumnya tak pernah
turun hujan. Apalagi kiriman malaikat Mikail itu turun bersama
teman-temannya, yaitu kilat yang berusaha meretakkan langit, petir yang
menggelegar mengejutkan jantung, dan angin kecil yang menumbangkan
beberapa pohon dan papan reklame di tepi jalan.
Ya Tuhan... haruskah kuterjang rasa dingin dan mencekam itu, batinku.
Apakah ini cobaan ataukah justru petunjuk untukku?, tanyaku yang tak
terjawab oleh siapapun. Maka yang pertama kali kulakukan adalah meminta
maaf pada Ibuku dalam batinku. Karena aku akan mengingkari janjiku
kepadanya yang tidak akan menempuh perjalanan disaat hujan disambut petir
dan angin. Maaf Bu...aku harus berperang dengan semua keadaan itu. Aku
yakin ini hanyalah kerikil kecil.
Masih dengan sepeda motor yang sama, pinjaman dari teman yang sama, jam
dan tempat berangkat yang sama, dan jalan yang sama dengan simulasi
kemarin sore, hanya keadaan dan langit yang berbeda. Kuawali dengan bacaan
Basmallah dan doa menempuh perjalanan, aku segera melaju di bawah naungan
jas hujan tipe batman yang sedikit bau karena lama tak dipakai. Di
perjalanan, beberapa kali aku disambut angin kecil yang dengan lincahnya
menghempas-hempaskan sayap batmanku. Tak jarang ketika sayap batmanku
terbuka, beberapa truk dan bus yang lewat juga menyapaku dengan cipratan
air berwarna cokelat. Di persimpangan jalan yang biasa macet, sayap
batmanku yang liar tiba-tiba terkait dengan kandang burung yang dibawa
oleh seorang pengendara motor yang juga berperang dengan kemacetan. Dan,
Krekkkkkkk.............. terdengar jelas di telingaku. Dengan begitu,
kemungkinan besar hanya kepala dan bagian leherku yang bisa dipastikan
kering.
Setelah setengah jam bergelut dengan kemacetan, akhirnya sampailah aku di
tempat penitipan sepeda motor depan halte bus Mayasari.
Alhamdulillah...ucapku lirih. Bergegas menuju halte dengan lari kecilku,
tanganku pun merogoh-rogoh kedalam tas dan kudapatkan payung yang menjadi
penghuni tetap tas gendongku itu.
Ternyata halte kecil di persimpangan itu penuh dengan orang-orang
berseragam karyawan yang tidak membawa payung. Aku hanya berdiri di tepi
jalan untuk menunggu bus Mayasari yang akan mengantarku. Semua sudah
berbeda, bus yang kemarin datang bertubi-tubi, susul-menyusul dan berebut
penumpang, kali ini tak ada satupun yang lewat. Kutoleh jam tanganku yang
basah, kuusap lembut dan kulihat jarum terpendek sudah menunjuk angka 6
tepat. Padahal seharusnya aku sudah naik bus paling lambat 30 menit
sebelumnya. Dari Pak Polisi yang mencoba mengusir kemacetan simpang itu
kuketahui bahwa tidak adanya bus yang menuju Jakarta karena terjebak macet
di jalan tol saat menuju Bekasi.
Terlintas dalam otakku untuk naik ojek, tapi hujan masih begitu deras dan
kupikir hanya tukang ojek yang gila yang mau mengantarku sampai Jakarta
Selatan. Akupun melihat taksi melintas, dan spontan kulambaikan tangan,
melipat payungku, kemudian merangsuk kedalam dengan tubuh basah kuyupku
meskipun aku hanya membawa uang 50 ribu rupiah.
Seorang Bapak tua yang menjadi sopir taksi itu segera melontarkan
pertanyaan wajibnya dengan ramah padaku, “Kemana ini Nak?”.
“Ke Simprug, Jakarta Selatan Pak, GOR Pertamina. Kira-kira butuh berapa
lama ya Pak?”
“Kalau normal sih 1 jam nyampe Nak, tapi kalau macet ndak tahu ya Nak, ke
Pertamina ya Nak? Ada keperluan apa malam-malam begini? “
“Ini Pak, saya mau ambil kartu peserta seleksi CPNS. Pengambilan kartunya
mulai jam 8 pagi sampai 8 malam Pak. Terus kemarin saya sudah survei
lokasi kesana berangkat jam 5 dari kantor, sampai disana jam 7 Pak,
makanya saya tidak ambil cuti, ini tadi pulang kerja Pak”, jawabku polos.
“Oh...sudah kerja,,,Bapak kira masih mahasiswa,,,,situ sudah survei
kemarin ya, sudah tahu jalan kesana berarti ya Nak? Soalnya Bapak tidak
tahu lokasi itu...”, kata sopir taksi itu sambil memutar-mutar lembut
stang bundarnya karena diluar, jalan sangat padat. Bukan hanya padat
mobil, motor dan orang-orang, tapi di sela-selanya masih dipadati oleh
arsiran air hujan yang tebal dan nampak tajam.
“Tapi kemarin surveinya naik bus Mayasari Pak, langsung turun di depan
lokasi, jadi saya ndak tahu persis jalan kesana Pak..”, jawabku sambil
memikirkan kebodohanku, mengapa aku tidak mengamati jalan dan petunjuk
menuju lokasi ketika survei naik bus.
“Oooo.... saya ada peta menuju lokasi Pak, kemarin sengaja saya print
ketika lihat pengumuman di internet”, susulku sambil mengeluarkan peta
ukuran kwarto dari tas ransel hitamku yang basah. Peta itu nampak lusuh,
sebagian basah karena kehujanan, dan berlekuk-lekuk karena dilipat di
dalam tas yang sesak oleh baju seragam kerja.
“Oiya,,, coba lihat Nak, kalau dari Jalan Gatot Soebroto ke arah mana...”,
kata Pak sopir taksi itu sambil sesekali melihat ke arah peta yang
kubentangkan.
Dan kami berdua sedang membicarakan peta itu, peta yang membuat
jalan-jalan menjadi seperti akar-akar yang bercabang di atas kertas putih.
Tanpa terasa, ketika kulihat jam tanganku, akupun kaget karena sudah pukul
19:00 WIB, padahal kami baru saja masuk pintu pertama masuk tol, yaitu
gerbang tol Bekasi Timur. Ya Tuhan, jam 8 aku harus tiba di GOR Pertamina,
mungkinkah 1 jam cukup untuk menempuh Bekasi – Simprug?.
Mungkin katak yang sedang menyambut hujan di tepi jalan pun juga tahu, itu
tidak akan mungkin. Apalagi ribuan mobil di jalan tol yang menghubungkan
Bekasi-Jakarta itu hanya merayap bahkan diam seperti mobil mainan yang
mogok.
Tiga puluh menit berlalu, pukul 19:30 WIB, taksi warna putih bergaris
merah yang kutumpangi hanya bergeser kedepan sekitar 6 meter. Sementara
aku masih terdiam dengan baju dan jaketku yang tak kunjung kering.
Sepatuku yang terisi air dan ketika kuinjak berkata “kecipuk-cipuk-cipuk”.
Kaos kaki putihku yang sudah berubah warna menjadi coklat karena beberapa
kali terciprat air di jalan ketika naik motor.
Dan akhirnya taksi yang kutumpangi itu berhenti, Bapak sopir yang
menurutku sangat sabar dan belakangan kuketahui berasal dari Indramayu itu
mematikan mesin dan keluar dari mobil. Kuamati dari dalam, lewat kaca
depan, beliau berdiri dengan rasa keingintahuannya tampak mengamati jauh
kedepan. Lantas ia kembali masuk ke mobil dengan wajah putus asa, dan
menatap kearahku.
“ Bagaimana ini Nak, sudah jam setengah delapan ya Nak? Pengambilan kartu
paling lambat jam delapan ya Nak, ini jalannya seperti ini, di depan sana
ribuan mobil berhenti, mesin udah dimatiin semua, sopir-sopirnya
ngrokok-ngrokok di luar. Bapak justru kasihan kamu Nak, sudah bayar ongkos
taksi mahal-mahal, nanti sampai Simprug sudah tutup dan ndak dapat kartu
ujiannya. Sudah bisa dipastikan jam sembilan pun juga ndak nyampe sana
Nak. Apa puter-balik pulang saja Nak?”
Aku masih terdiam menggigil tanpa jawaban sambil melihat ongkos taksi yang
sudah menunjukkan Rp 106.000,- meskipun kulihat dompetku hanya ada satu
lembar 50 ribuan. Gejolak di dalam hati tak bisa kuredam lagi, ingin
rasanya aku keluar dari taksi itu dan berjalan kaki. Tapi itu adalah
keputusan yang konyol, yang mungkin bisa membuatku pingsan di jalan tol.
Karena uang di dompetku tak cukup membayar ongkos taksi itu juga, akhirnya
aku memilih untuk tetap di dalam taksi. Tapi Ya Allah, saya harus
bagaimana? Haruskah aku putar-balik pulang tanpa kartu ujian dan tidak
mengikuti ujian besok pagi? Dan mengubur harapanku? Dan membiarkan mimpi
itu benar-benar hanya menjadi mimpi? Atau aku tetap melanjutkan perjalanan
ini?.
Ya Tuhan…. Bolehkah saya putar waktu ini menjadi sore lagi Ya Allah?
Tolong Ya Allah, jangan biarkan ada jam delapan malam kecuali hamba sampai
di Simprug, batinku memelas.
Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, bahkan aku tidak bisa mengenali
apa yang terjadi padaku ini sebuah ujian dari-Nya ataukah justru
petunjuk-Nya. Jika ini memang ujian yang berusaha menguji seberapa besar
usahaku, aku akan melaluinya. Tapi aku ragu, ataukah ini justru
petunjuk-Nya yang mengisyaratkan bahwa hanyalah kegagalan yang kudapatkan?
Seperti setahun yang lalu, kupaksakan mengikuti tes CPNS Daerah meskipun
sakit berat yang belakangan kuketahui, aku gagal!.
“Ah! Apa-apaan aku ini! Belum perang kok sudah menyerah! Aku tak mau
mencetak kekalahanku sendiri! “, gertakku pada diri pesimisku. Dan akupun
akan tetap melangkah, tak akan berhenti melangkah sampai Allah sendiri
yang akan benar-benar menghentikan langkahku.
Kuyakinkan dalam hatiku bahwa ini hanyalah ujian dari Allah. Ya dari Dia,
Dia yang mengujiku dengan sedikit masalah adalah Dia yang selama ini
membanjiriku dengan lautan nikmat dan cinta. Ketika beban yang kurasakan
begitu berat, maka aku harus bahagia karena Allah percaya punggungku akan
kuat memikulnya. Disaat harapku belum terwujud, seharusnya aku bahagia
karena Allah percaya aku tak akan berhenti berjuang dan memohon kepadaNya.
Tidak, saya tidak ingin pulang dalam keadaan belum berusaha. “Saya harus
ke Simprug malam ini Pak, semahal apapun tarifnya, saya bayar, nanti
tolong antarkan saya ke ATM”, jawabku kepada Bapak sopir taksi yang selalu
memasang wajah putus asa dan jenuh dengan kemacetan itu.
Akupun segera mencari cara untuk tetap bisa mendapatkan kartu ujianku.
Sempat terfikir minta saran ibu, bapak dan kakakku melalui ponsel, tapi
justru akan membuat mereka memikirkanku. “Seorang gadis lugu! Merantau
dari kampung Jawa! Malam-malam di Jakarta! yang sangat kejam dan penuh
kriminalitas! Pulang saja! Tak bisa ikut seleksi tak apa!”, kira-kira
seperti itu jawaban yang akan kuterima jika benar-benar menelfon mereka.
Kucoba hubungi teman sekampus waktu kuliah yang juga menjadi peserta
seleksi, tetapi keadaan memang mengharuskanku untuk berusaha mandiri.
Temanku itu cukup memberikanku info bahwa pengambilan kartu benar-benar
tidak bisa diwakilkan.
Telfon panitia! Yah! Aku harus telfon panitia sekarang juga untuk berterus
terang!. Segera kucari nomor ponsel panitia yang bisa dihubungi, di kertas
peta, di print out pengumuman. Aku pernah melihatnya. Tapi setelah kubuka
dan kuamati, angka-angka itu tak terbaca lagi karena telah luntur akibat
rembesan air hujan dari tas ranselku. Akupun tak kehilangan akal, segera
kubuka internet via ponselku, dan kutemukan nomor ponsel panitia yang bisa
dihubungi. Segera saja kusimpan dalam memori ponselku, lalu kutelfon.
“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini....”,
jawaban dari ponselku yang lapar itu. Aku baru ingat bahwa pulsa yang
kubeli kemarin telah kupakai menelfon teman kantor untuk meminjam motor,
menelfon teman kuliah, lalu membuka layanan internet dan mengunduh
pengumuman yang didalamnya terdapat nomor ponsel panitia. Wajar kalau
habis!
Oh, masih ada satu ponsel lagi di anakan tas ransel. Dan ternyata hanya
bisa digunakan untuk layanan pengiriman pesan singkat (SMS). Tanpa
buang-buang waktu lagi, segera kuketik “ Pren, tolong isikan pulsa 50
ribu, penting, cepet ya. Bayar di kantor hari Rabu. Thanks.”
Dalam hitungan detik, akupun akhirnya bisa menghubungi panitia seleksi,
tepat pukul 20:00 WIB. Segera kujelaskan duduk permasalahannya setelah
kuucapkan salam.
“Maaf Pak, saya salah satu peserta seleksi yang belum mengambil kartu
untuk ujian besok pagi. Saya terjebak macet di jalan tol Pak. Tol
kebanjiran dan ada pohon tumbang ke jalan sehingga macet parah Pak.
Bagaimana Pak, tolong saya.”, ucapku polos.
“Oiya Dek, disini juga hujan deras dan macet Bu. Ibu nomor urut berapa?”,
tanya panitia.
“Nomor urut 756 Pak, atas nama xxxxx xxxxxxx”, jawabku dengan berusaha
sejelas mungkin mengatakannya.
“Oh...asal dari Jawa Tengah ya Dek, baiklah Dek, kami coba tunggu Adek sampai
jam 22:00 WIB ya Dek”, kata panitia itu dengan ramah dan membuatku cukup
lega.
Yang kutahu, setiap aku mengikuti seleksi masuk kerja, kuliah dan
sebagainya, yang namanya keputusan panitia tidak bisa diganggu gugat,
tepat, tak peduli dengan alasan apapun. Paling lambat jam 20:00 WIB, ya
selebihnya tidak dilayani. Syukur kupanjatkan pada-Nya yang Maha Menguasai
Hati, meluluhkan hati panitia untuk menerima alasanku dan memahami
keadaanku.
Sejak saat itu, aku mulai tidak setuju dengan kebanyakan orang yang
menyatakan bahwa semua PNS selalu mempersulit warga, tidak perhatian
kepada warga, dan pelayanan yang diberikan sangat mengecewakan.
“Ya Allah, bantu hamba terbang sebelum pukul 22:00 WIB ya Tuhanku...”,
doaku dengan harapan waktu 2 jam itu cukup untuk memerangi kemacetan.
Dengan tubuh kurusku yang menggigil kedinginan itu aku hanya bisa memuji
dan mengagungkan nama-Nya. Alhamdulillah, Subhanallah, Dia beri kami
kemurahan. Di setiap waktu kusebut nama-Nya memohon perlindungan, terutama
perlindungan dari putus asa.
Waktu terus berjalan, tapi taksiku tak kunjung jalan. Hanya merangkak
mengais demi secuil langkah. Bahkan Pak sopir taksi sudah terlihat bosan
keluar masuk pintunya, dan minta ijin merokok diluar seperti yang
kebanyakan para sopir lakukan disaat itu karena hujan sudah reda.
Tiba-tiba terdengar nyanyian dari ponsel setiaku, yang menandakan ada
panggilan. Ternyata nomor panitia, yang menanyakan dimana keberadaanku.
Maaf, maaf dan maaf yang selalu kukatakan kepada panitia.
“ Jarang ada panitia seleksi yang sebaik itu Nak. Oiya Nak, billing taksi
ini apa dimatiin aja ya Nak, kalo dibiarkan jalan terus, Bapak kasihan
kamu nanti bayarnya bisa nyampai lima ratus ribu Nak”, kata pak sopir
taksi yang mendengar pembicaraanku dan sekilas melihat billing taksi
ketika ia masuk mobil.
Untuk yang kesekiankalinya kuterima panggilan dari panitia yang
menanyakan, “Sampai mana Dek?”, kemudian “Sampai mana Dek?!”, kemudian
“Sampai mana Dek!!!!”, kemudian “Sampai mana Dek!!!!!!!!”.
“Sini Nak! Coba saya ngomong,,”, kata Pak sopir taksi seraya meminta
ponselku.
“Pak, tolong Pak... saya sopir taksi yang ditumpangi anak ini Pak. Tolong
tunggu kami Pak...kami dari sore terjebak macet di tol, benar-benar nggak
bisa jalan Pak. Padahal kami sudah selip kanan selip kiri. Tolong kasih
kesempatan Pak. Saya kasihan dengan anak ini, sudah kehujanan, basah
kuyup, sendirian, anak cewek, bayar taksi mahal, kasihan kalau sampai ndak
bisa ikut ujian. Tolong tunggu kami Pak. Tolong kasih dia kesempatan.
Tolong Pak...tolong...tolong Pak...”, ungkap Pak sopir taksi dengan cepat
dan nada memelas.
Air matakupun hampir taktertahankan lagi mendengar permohonan pak sopir
taksi kepada panitia itu. Namun tak lama kemudian, panitia kembali bicara
padaku dengan sapaan berbeda.
“Dik, sudah kami tunggu sampai jam sepuluh malam tapi kok juga gak
datang-datang. Apa begini aja Dik...kamu yang penting bisa keluar dari
tol, biar nanti dijemput panitia di pintu keluar tol. Eh, atau gini aja,
kamu keluar pintu tol, nanti ambil kiri dateng aja ke Kantor Pusat kami
yang cuma ratusan meter dari situ. Nanti biar diantar pegawai kami ke
Simprug naik motor, soalnya kalo naik mobil sama aja macet gak bisa
nyelip-nyelip.
Ya..gitu ya...”, jelas Panitia dengan nada solutif.
Tanpa pikir panjang, aku hanya mengiyakan. Beruntung aku juga sudah antisipasi punya peta
menuju kantor pusat yang dimaksud.
Aku dan sopir taksiku masih berperang dengan kemacetan. Dan kulihat
kekuatan Illahi telah meleburkan wajah putus asa Pak sopir, membuatnya
berhasil menyalip ratusan mobil yang putus asa. Semangat itu kulihat jelas
di wajah keriput dan tangan kuat nan lihai pak sopir taksi itu. Semangat
layaknya seorang bapak yang ingin memberikan apa saja yang diminta
anaknya.
“Berarti nanti gimana Nak?, Bapak antar situ sampai di kantor pusat itu
saja atau gimana?”, tanya Pak sopir kepadaku.
“Nanti kan saya dari kantor pusat diantar ke Simprug Pak, nanti saya
hubungi Bapak, kita mesti bertemu dimana, syukur-syukur nanti panitia yang
nganterin saya juga balik ke kantor pusat lagi, baru kita pulang ke Bekasi
Pak, gimana Pak? supaya saya juga ndak mesti cari taksi lagi, dan Bapak
juga tidak kosongan pulangnya. Oiya, Bapak ada ponsel Pak?”, jelasku.
“Waduh, Bapak ndak punya ponsel…tapi begitu lebih baik Nak. Oh iya, situ
kan ada 2 ponsel, gimana kalo satunya ditinggal di bapak Nak?, insyaAllah
bapak ndak bawa lari, catat saja plat nomor taksi bapak itu, nama bapak
Abdul Khadir, mangkalnya di Simpang Bekasi”, jelasnya dengan wajah yang
kuyakini itu ketulusan.
“Tuhan...yang Maha Melihat, hamba tahu Engkau melihat kami dan masalah
kami. Engkau melihat semangat pak sopir taksi. Engkau melihat panitia
seleksi yang rela menunda nyenyak tidurnya untuk menunggu kami. Engkau
juga melihat niat hamba Ya Allah…Hamba percaya Engkau tak akan
membiarkanku pulang dengan tangan kosong.
Jam sebelas malam sudah lewat, hampir jam 12 malam aku dan taksiku baru
keluar dari tol. Dengan modal peta yang kumiliki dan petunjuk panitia via
telfon yang sudah kulupa-lupa-ingat, kami mencari kantor pusat yang
dimaksud. Benar-benar tengah malam yang mencekam, hanya ada satpam di
setiap megahnya gedung yang kulewati. Saat kami yakin kami sudah dekat
dengan lokasi, aku dan pak sopir keluar dari taksi, berdiri, berjalan
dengan kaki kakuku, membaca setiap tulisan di dinding gedung-gedung yang
menjulang tinggi.
Akhirnya kami menemukannya setelah bertanya kepada seorang petugas
keamanan. Di kantor pusat itu, aku bertemu dengan 4 orang panitia yang
juga sebagai pegawai di kantor itu. Apa yang kulihat saat itu tak pernah
ada dalam bayanganku. Bahkan aku tak percaya, di ibukota ini masih ada
orang baik, dan masih ada PNS yang melayani sampai tengah malam. Jujur,
aku telah berburuk sangka ketika mereka mengisyaratkanku dengan bahasa
tubuh untuk datang pada mereka tanpa pak Abdul Khadir. Dengan was-was aku
berjalan menuju mereka. Sedikit basa-basi bertanya tentang kemacetan jalan
tol, akhirnya kuceritakan perjalananku dari Bekasi malam itu secara
singkat. Sedikit mencair rasa cemasku. Tapi di otakku masih membaca memori
tentang opini masyarakat terkait penyuapan jika ingin diterima menjadi
PNS. Entah jujur atau bohong, temanku pernah bercerita tentang
pengalamannya ditawari “tiket masuk PNS” di suatu instansi seharga 120
juta.
“Ah! Aku datang dengan niat baik!”, tegasku dalam hati. Tapi tiba-tiba
pegawai yang menelfonku itu terlihat seperti menahan apa yang ingin ia
katakan. Lalu ia menyuruhku segera mengambil kartu ujian di Simprug dengan
seorang pegawai diantara mereka, bapak yang saat itu mengenakan sepatu
boat tinggi.
Tapi lagi-lagi aku bingung untuk memutuskan ketika semua panitia yang baik
itu menyarankanku dengan berbisik, “itu taksinya bayar sekarang aja…kalau
nungguin kamu pulang dari Simprug, nanti kena uang tunggu, kamu bayarnya
mahal. Nanti kalau mau pulang ke Bekasi, cari taksi lagi aja…”.
Tapi aku lebih yakin untuk tetap pulang dengan pak sopir taksi yang juga
baik itu, Pak Abdul Khadir, selain aku tak cukup uang untuk membayar sewa
taksi saat itu. Maka satu ponselku kutinggal di Pak Abdul untuk komunikasi
selama kami terpisah.
Dengan motor yang dikendarai pegawai instansi itu, Pak Budi, aku
melanglang jalang dari Mampang ke Simprug. Jalan-jalan yang kami lewati
tak satupun kukenali. Bahkan yang kutemui hanyalah semak-semak dan lahan
kosong disamping kanan kiri jalan. Di tengah malam yang sepi dan gelap
itu, aku hanya bisa berdoa, “Selamatkanlah kami Ya Allah, hamba yakin
sekarang hamba bersama orang baik dan tulus”.
“Katanya kemarin minggu sudah survei lokasi ya Mbak?, masih ingat nggak
ini lewatnya mana?”, Tanya Pak Budi sambil sedikit memiringkan wajahnya
kearahku.
“Iya Pak, tapi saya kemarin naik bus dari Bekasi langsung sampai depan
gerbang Pak. Saya ndak tahu jalan-jalan ini Pak…”, jawabku jujur.
Sama-sama tak tahu jalan, kamipun sepakat untuk bertanya kepada seorang
penjaga malam sebuah perumahan yang sepi disana.
Beruntung, tak lama kemudian akhirnya sampailah kami di GOR Pertamina
Simprug, pukul 00:20 WIB. Diserahkanlah urusanku kepada satu-satunya orang
yang ada di GOR itu. Aku yakin beliau juga salah satu panitia seleksi
sekaligus pegawai karena kulihat ada papan nama beserta NIP tersemat di
baju dinasnya.
“Kamu Mbak yang ingin ambil kartu…, mari ikut saya!”, katanya sambil
mengantarku masuk ke apartemen Pertamina Learning Center.
“Bismillahirohmannirokhim…”, aku memasuki ruang tamu apartemen itu, lalu
duduk manis masih dengan badanku yang menggigil dan kulitku yang memutih.
Sementara seorang panitia yang berpakaian dinas itu tampak menelfon
seseorang yang lebih berwenang untuk memberiku kartu ujian.
Ternyata benar, tak lama kemudian keluarlah seorang bapak dari dalam
apartemen itu, mengenakan celana kolor pendek dan memakai kaos singlet
dirangkap jaket hitam. Tanpa basa-basi beliau langsung memotongkan kartu
ujianku. Kemudian beliau memintaku untuk tanda tangan yang kuketahui
sebagai tanda terima kartu ujian yang baru saja kuterima itu. Saat itu
kutoleh jam dinding bulat disana, pukul 00:30 WIB. Alhamdulillah ya Allah…
“Terima kasih banyak Pak…selamat malam…”, ucapku dengan senyum termanisku
kepada kedua Bapak yang tak sempat kukenal itu.
Tanpa ada kepentingan lain, aku pun segera keluar dari apartemen, dan
beruntung Pak Budi sedang menungguku di atas motor berplat merahnya.
Kami pun segera kembali ke kantor pusat. Di jalan raya yang banjir waktu
itu, kuberanikan diri untuk meminta tolong kepada Pak Budi agar mampir di
ATM center karena hanya 50 ribu rupiah yang kupunya. Tapi entah mengapa, 4
pos ATM center yang kudatangi semuanya Offline. Dan aku pun memutuskan
untuk mencari ATM center bersama taksiku nanti.
Tiga puluh menit berlalu, tibalah kami di kantor pusat kembali. Ya, masih
ada Pak Abdul Khadir dengan taksinya. Masih ada juga 3 pegawai yang
lainnya disana. Dan seorang pegawai yang sempat ingin mengatakan sesuatu
sebelum aku pergi ke Simprug itu akhirnya bicara.
“Dik, kamu mau pulang? Apa nggak sebaiknya kamu nginep disini?... kamu
bisa tidur di mushola…ini sudah jam satu malam, jalan tol nggak tahu masih
macet atau nggak, takutnya masih macet, kamu sampai Bekasi sudah
pagi…padahal kamu besok harus ujian di GOR Pertamina Simprug jam 7
pagi…dan yang perlu diingat, nggak boleh telat satu menitpun.”, jelas
beliau dengan wajah seriusnya.
Oh, itu saran yang sama dengan seorang pegawai berpakaian dinas di Simprug
tadi. Sempat berfikir sejenak, tapi sebagai seorang gadis tulen yang lugu,
dan mungkin kata mereka juga keras kepala, akupun memilih pulang ke
kontrakan di Bekasi.
“Trima kasih banyak Pak…trima kasih…mariii…assalammualaikum…”, sapaku
seraya meninggalkan kantor itu bersama sopir setiaku.
Alhamdulillah, jalan tol kearah Bekasi lancar. Saat itu benar-benar
kurasakan bahwa serangkaian perjalananku mengambil kartu ujian memang
sebuah ujian dari-Nya. Dan anehnya, ketika sampai di Bekasi, ATM center
yang pertama kudatangi juga bisa digunakan untuk menarik uang.
“Akhirnya sampai juga, jam 2 ini Pak… berapa Pak?”, tanyaku kepada Pak
Abdul Khadir, sopir pahlawanku malam itu.
“Dua ratus tiga puluh aja Nak..”, jawabnya setelah tampak menghitung dalam
angan-angannya.
“Sudah termasuk denda mobil pulang terlambat Pak?’, tanyaku lagi sambil
memberikan ongkos taksi itu.
“Sudah Nak, besok pagi jangan lupa untuk berangkat ujian tertulis ya Nak,
ujian niat dan kesabaran cukup hari ini, oke?”, katanya ramah.
“Siap Pak! Trima kasih banyak Ya Pak…”, kataku sambil berjalan pelan.
Pak Abdul juga segera pergi dengan taksinya.
Sesampai di kontrakan, aku cuci muka, kaki dan tanganku. Berganti pakaian
yang kering, mempersiapkan tas dan perlengkapan ujian tertulis nanti pagi.
Memasang selimut tebalku dan tak lupa kupasang alarm pukul 03:30 WIB. Ya,
aku harus tidur nyenyak selama satu setengah jam.
**
Alhamdulillah aku bisa mengikuti ujian tertulis meskipun dengan kondisi
mata susah melek, badan yang linu, kaki yang kaku dan tentu saja tak
sempat mandi. Sarapan tahu sumedang yang dijual dua ribu rupiah per bungkus di bus.
Setelah hari itu, akhirnya tumbang juga terkena typus bersamaan jadwal test selanjutnya.
Harus dirawat di RS Mitra keluarga bekasi,
tapi minta pulang demi ikut test.
**
Sebulan kemudian, temanku mengirim pesan singkat lewat ponsel,
“xxxxx gimana kabarnya? Pasti baik nih…Denger-denger kamu ketrima PNS
kemarin ya? Pake duit berapa?”
Jawabku, “Alhamdulillah baik, iya, kamu jadi mau yang 120 juta? Aku pake
duit 230 ribu, hehehee..untuk bayar ongkos taksi”.
xxx

Jumat, 10 Agustus 2018

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian









Dalam ekosistem kehidupan anak, keluarga seharusnya menjadi unsur yang paling banyak memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi diri dan karakter anak karena memiliki lebih banyak waktu interaksi. Melalui interaksi dan komunikasi diantara anggota keluarga maka ikatan emosional dapat ditingkatkan sehingga energi positif dapat mudah ditularkan dan dibangun. Sebagai contoh orangtua perlu menanamkan sifat, sikap dan perilaku yang positif dan sesuai norma-norma yang berlaku sehingga anak mudah dalam bersosialisasi di masyarakat. 

Perilaku anak yang sejuk dipandang, sopan dan diterima dalam norma yang berlaku di masyarakat tidak muncul dengan sendirinya, melainkan perlu diajarkan, dicontohkan dan dibiasakan sejak dini. Perilaku baik yang harus ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari misalnya perilaku jujur, sopan, pemaaf, tanggungjawab, berempati, berterima kasih dan bersyukur. Anak yang jujur mau mengatakan sebenarnya apa yang diketahuinya. Anak yang pemaaf tidak akan mudah marah dan membalas dendam. Anak yang bertanggungjawab akan mengetahui apa yang menjadi kewajibannya. Anak yang berempati akan mudah bertenggang rasa kepada orang lain dan suka menolong. Anak yang yang dapat berterima kasih akan menyatakan rasa terima kasihnya melalui perkataan kepada orang lain. Pribadi yang bersyukur akan senang melihat dirinya sebagai ciptaan Tuhan dan apapun yang telah diberikan oleh Tuhan. 


Untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan anak, baca juga: Attachment Parenting Utamakan Kedekatan Ibu dan Anak.
ASI: Bukan hanya tentang Pemberian Nutrisi.
Dukungan Nabi Atas Pentingnya Pemberian ASI.

Orang tua perlu memberi motivasi kepada anak untuk meraih cita-cita, pentingnya pendidikan, dan menjadi orang yang mandiri dan bermanfaat kelak. Tidak perlu memaksakan kehendak kepada anak harus menjadi apa di masa datang karena orangtua sejatinya tidak tahu sebenarnya potensi apa yang ada pada anaknya. Banyak jalan menuju kesuksesan, tidak melulu dengan jurusan pendidikan tertentu saat nanti masuk kuliah. Namun memberi saran dan mengarahkan sesuai kemampuan anak tentu sangat disarankan, misalnya memberi gambaran peluang dan tantangan di setiap jurusan yang dipilih anak.

Orang tua juga perlu melatih kemandirian anak misalnya dengan mengajari menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri. Perlu menanamkan pemahaman bahwa kesuksesan didapat dengan usaha dan jerih payah, tidak ada yang instan. Ketika mendapat Pekerjaan Rumah (PR) dari sekolah, biarlah anak menyelesaikannya sendiri tapi orangtua memantau. Ketika ada kesulitan, maka selanjutnya disinilah latihan pantang menyerah, biarkan anak berusaha mencari pemecahannya. Perlu ditanamkan bahwa pasti ada hikmah di setiap usaha, sering mencoba akan melahirkan caranya sendiri. Jika kita sering mendampingi anak belajar di rumah, maka kita akan tahu sejauh mana kemampuan anak sehingga kita bisa membantunya memecahkan masalah pada saat yang tepat, misalnya saat anak benar-benar menyerah. Ketika kita membantu di saat anak sudah merasa kesulitan, maka dia akan lebih memperhatikan karena sudah diliputi rasa ingin tahu.

Sesekali melibatkan anak dalam pekerjaan orangtua juga dapat membuat anak mengerti perjuangan orangtua. Meskipun orang tua mudah dan tidak keberatan dalam membiayai anaknya, membuat anak mengerti darimana biaya sekolah, dapat melatih rasa tanggungjawab anak. Perlu menanamkan pemahaman kepada anak bahwa bekal hidup bukanlah harta yang melimpah, melainkan ilmu yang berguna. Sebanyak apapun harta, dapat hilang dan lenyap. Tetapi ilmu dibawa kemanapun bahkan tidak ada yang bias mencurinya. Itulah mengapa menuntut ilmu setinggi-tingginya tidak akan merugi. Interaksi antara anak dan orangtua pada aktivitas anak dan aktivitas orang tua dapat menciptakan sahabat dalam keluarga yang didalamnya ada hubungan saling terbuka dan percaya.

Baca juga : Membentuk Karakter Positif Anak Lewat 4 Sifat Rasulullah

Sebaliknya, orangtua pun juga perlu mendapat edukasi dan wawasan dalam mengantar kesuksesan pendidikan anaknya. Tak sedikit orangtua yang kurang peduli atau tidak tahu dengan capaian prestasi anaknya bahkan pentingnya jenjang pendidikan untuk anaknya. Ketika orangtua mengajarkan kerja keras dan pantang menyerah kepada anaknya, tentu saja harus dibarengi dengan keteladanan orangtuanya. Oleh karena itu membuka wawasan orangtua sangat diperlukan. Hal ini bisa ditempuh dengan cara menghadirkan para orang tua/wali dalam seminar atau kelas orang tua/wali dan pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan maupun masyarakat. Ini menjadi hal yang semakin penting terlebih di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan tantangan dalam pendidikan anak. Segala informasi dapat masuk dari segala arah tanpa pandang bulu terhadap anak sekalipun sehingga keluarga, satuan pendidikan, dan juga masyarakat harus menjadi filter dalam memilah informasi positif dan negatif. Orang tua juga harus mengikuti perkembangan teknologi sehingga tidak kalah dari anaknya agar bisa membimbing dalam pemanfaatan teknologi. Karena teknologi mempunyai sisi positif dan negatif tergantung bagaimana cara memanfaatkannya. Fasilitas internet dapat bermanfaat untuk mencari literatur tapi juga dapat menjerumuskan pada konten-konten yang tidak baik seperti pornografi, sarkasme dan intoleransi.






Titik balik dari era kekinian dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah dengan memanfaatkan teknologi itu untuk sebanyak mungkin manfaat yang bisa didapat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mendongkrak keberhasilan pendidikan. Sinergitas antara keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat dapat ditingkatkan. Dan karena keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan pendidikan, maka pemerintah menetapkan peraturan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor  30  Tahun 2017 Tentang Pelibatan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan. Pelibatan keluarga yang dimaksud adalah proses dan/atau cara keluarga untuk berperan serta dalam penyelenggaraan pendidikan guna mencapai tujuan pendidikan nasional.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab bersama antara Satuan Pendidikan, Keluarga, dan Masyarakat terhadap Penyelenggaraan Pendidikan; mendorong Penguatan Pendidikan Karakter Anak; meningkatkan kepedulian Keluarga terhadap pendidikan Anak; membangun sinergitas antara Satuan Pendidikan, Keluarga, dan Masyarakat; dan mewujudkan lingkungan Satuan Pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Dalam peraturan itu memberikan panduan bahwa bentuk Pelibatan Keluarga pada Satuan Pendidikan dapat berupa :

Yang pertama, menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan tentu sudah pasti. Misalnya pertemuan wali murid untuk membahas kegiatan yang menunjang pendidikan anak dan meningkatkan komunikasi diantara orangtua/wali, pihak sekolah dan komite sekolah.  Di era sekarang mungkin komunikasi dapat ditingkatkan dengan secara daring (online) melalui aplikasi media social (misalnya group whatsapp, line, atau BBM). Orangtua/wali dapat mengetahui informasi terkini pendidikan anaknya dengan sangat praktis, mudah, dan efisien. Tidak hanya pihak sekolah yang menjadi moderator dalam group ini, tetapi juga perlu dari pihak orangtua/wali.

Baca juga: Pentingnya Membangun Komunikasi yang Efektif Orangtua-Sekolah


Yang kedua, mengikuti kelas orangtua/wali, ini perlu ditingkatkan. Orangtua/wali perlu mendapat pengetahuan dan wawasan menjadi orang tua/wali yang dapat mendorong pendidikan anak melalui seminar atau kelas orang tua. Tantangannya adalah seringkali orangtua/wali tidak banyak waktu untuk mengikutinya secara rutin terutama bagi orangtua/wali yang bekerja. Namun di era saat ini sudah ada kelas orangtua online yang dapat digunakan secara gratis dan mudah. Misalnya, dapat menggunakan aplikasi Edmodo, google classroom, atau aplikasi lainnya. Guru yang ditunjuk sekolah sebagai admin dapat memberikan materi secara online.

Yang ketiga, menjadi narasumber dalam kegiatan di Satuan Pendidikan, perlu ditingkatkan. Jadi perlu kadang kala orang tua/wali tampil mengisi kegiatan di sekolah anak. Latar belakang yang berbeda-beda dari orang tua/wali dapat menjadi bahan untuk memperluas wawasan. Untuk orangtua/wali yang tidak bisa datang ke sekolah tetap bisa menjadi narasumber menggunakan fitur video call. Hampir semua media social sekarang mempunyai fitur video call dengan kualitas cukup baik. Sekolah perlu menghubungkan smartphone ke layar LCD menggunakan HDMI/USB adapter sehingga siswa dapat mendengarkan bersama-sama.  

Baca juga atau unduh : Buku Saku Mendidik Anak dari Pustaka Sahabat Keluarga

Yang keempat, berperan aktif dalam kegiatan pentas kelas akhir tahun pembelajaran, ini sudah banyak dikembangkan. Pada akhir tahun pembelajaran, ada waktu untuk kegiatan pentas kelas. Orang tua terlibat dalam mendukung penyiapan dan juga menyaksikan pentas anak-anaknya. Misalnya, menyanyikan lagu kebangsaan,memainkan alat music, menari, dan pertunjukkan lainnya tergantung bakat anak. Saat pertunjukkan berlangsung, orangtua dapat mendokumentasikannya melalui rekaman video. Selanjutnya orangtua juga bisa menampilkan hasil video dokumentasinya pada chanel di youtube.

Yang kelima, berpartisipasi dalam kegiatan kokurikuler, ekstra kurikuler, dan kegiatan lain untuk pengembangan diri Anak. Kecerdasan manusia tidak hanya dilihat dari kecerdasan intelektual saja, tetapi juga dari kecerdasan emosional, kreativitas, dan religius. Untuk mengasah beberapa kecerdasan ini tentu tidak terakomodasi dengan proses pembelajaran di kelas saja. Umumnya di kelas hanya mengutamakan pembelajaran kemampuan logis dan matematis. Padahal setiap anak dilahirkan mempunyai potensi yang beragam sehingga harus diasah sesuai minat dan bakatnya melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Orangtua/wali dapat berperan dengan menfasilitasi kebutuhan anak untuk itu, baik peralatan mapun kebutuhan lainnya. 


Yang keenam, bersedia menjadi anggota Komite Sekolah. Komite sekolah berfungsi untuk meningkatkan mutu pelayanan pendidikan di sekolah melalui pengawasan kinerja sekolah, serta menindaklanjuti keluhan, saran, kritik, dan aspirasi dari peserta didik, orangtua/wali, dan masyarakat. Jadi orangtua/wali sudah seharusnya bersedia menjadi anggota untuk berperan sebaik mungkin.

Yang ketujuh, aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah. Orangtua/wali dapat menyampaikan usulan dalam lembaga mandiri ini secara terbuka, misalnya tentang program dan kebijakan sekolah, pemenuhan fasilitas sekolah, dan lainnya. Untuk berperan maksimal sesuai fungsinya, orangtua/wali perlu mengetahui Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.


Rapat Komite dan Orang Tua Siswa SMA NEGERI 2 UNGARAN
Courtesy of Mas Supri


Kedelapan, keluarga menjadi anggota tim pencegahan kekerasan di Satuan Pendidikan. Untuk meningkatkan penyelenggaraan pembelajaran yang aman, nyaman, dan menyenangkan perlu upaya pencegahan tindak kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Dalam menjalankan fungsinya sebagai pencegahan, maka seharusnya peran proaktif sanggat diharapkan. Misal menyaksikan ada hal yang berisiko, jangan diam, tapi laporkan dan sampaikan kepada Komite Sekolah. Jika menemukan hal berisiko di lingkungan juga laporkan dengan RT/ RW setempat. Jadi pencegahan adalah upaya yang efektif untuk menghindari terjadinya kekerasan pada anak. Dalam menjalankan fungsinya, anggota tim perlu mengetahui  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 82 tahun 2015 tentang Pencegahan Dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.

Kesembilan, keluarga berperan aktif dalam kegiatan pencegahan pornografi, pornoaksi, dan penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA). Keluarga yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak sudah seharusnya berperan aktif memberikan pemahaman nilai-nilai agama dan pengamalan nilai luhur pancasila. Keluarga adalah yang paling memahami fungsi pengawasan. Kapan dan dimana anak berada termasuk celah-celah yang berisiko tentu keluargalah yang tahu. Pengawasan orang tua terhadap anak sangat penting karena kepolisian tidak bisa masuk hingga keluarga. Di era sekarang untuk memantau kegiatan anak dapat terbantu oleh teknologi informasi dan komunikasi. Orangtua/wali bisa melacak keberadaan anak melalui nomor handphone yang dihubungan dengan GPS tracker. Penggunaan CCTV di rumah yang terhubung online ke  handphone orangtua juga dapat membantu memantau apa saja yang terjadi di rumah. Tentu saja dengan mempertimbangkan keprivasian.

Baca juga: Drone Parenting, Pola Asuh Orangtua Milenial.

Kesepuluh, keluarga memfasilitasi dan/atau berperan dalam kegiatan Penguatan Pendidikan Karakter Anak di Satuan Pendidikan. Akhir-akhir ini sedang ramai bahasan tentang program penguata  pendidikan karakter untuk membentuk generasi yang cerdas berkarakter. Mengapa ada kata "penguatan" disini? Menurut saya memang perlu karena memang melihat karakter bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini terlihat merosot baik dari nilai religius, mandiri, integritas, nasionalis, dan gotong royong. Penguatan pendidikan karakter sejatinya dilakukan melalui pendidikan di satuan pendidikan/sekolah berasas olah hati, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Namun begitu, penguatan pendidikan karakter anak dapat dilakukan sejak dini dimulai dari keluarga dan selama di sekolah. Misalnya memupuk keimanan kepada Tuhan sebagai insan beragama dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya sejak dini. Dalam penguatan pendidikan karakter anak di satuan pendidikan, contoh peran keluarga adalah mendukung gerakan membaca buku non-pelajaran di sekolah sebelum pelajaran dimulai. Di era yang modern ini keluarga bisa saja memfasilitasi dengan buku bacaan maupun buku yang sudah diunduh dari online book.

Baca juga : Kumpulan Cerita Pendek untuk Anak dari Sahabat Keluarga

Kumpulan Lagu Wajib dan Daerah dari Sahabat Keluarga. 

Demikian, tentang pelibatan keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian. Semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi, meningkatnya tingkat pendidikan generasi ke generasi, sudah sepantasnya pelibatan keluarga semakin banyak caranya. Banyak yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk mendorong keberhasilan pendidikan anaknya. Pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan sudah menyiapkan bahan-bahannya di "sahabat keluarga" #sahabatkeluarga. Website resmi Kemendikbud itu memberikan pendidikan orang tua untuk anak-anaknya. Keluarga pun bisa berkomunikasi secara terpadu lewat pendidikan bimbel keluarga. #sahabatkeluarga 


Daftar referensi:

sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
www.kemdikbud.go.id








Sabtu, 28 Juni 2014

Makna dari Kisah Abu Lahab

Jum'at, 22-11-2013


Bismillahirahmanirrahim

Al Qur'an, tidak ada keraguan padanya. Kitab yg sempurna dan tak pernah direvisi.
Salah satu suratul Qur'an yg turun di Mekah adalah Al Lahab.
Bila kita renungkan, bahwa turunnya surat Al Lahab adalah di masa Abu Lahab dan istrinya masih hidup. Saat itu awal-awal Rasulullah Saw berdakwah secara terang-terangan. Barisan dakwah Rasul yang jumlahnya masih dapat dihitung jari menyerukan kalimatullah "Laa ilaaha ilallah, muhammadurasulullah" di tengah gelapnya jaman jahiliyah.  Mereka dilempari dengan batu hingga berdarah-darah, dan dihadang oleh Abu Lahab dan istrinya beserta kaumnya dengan api dari kayu yang sengaja dikumpulkan dan dibakar untuk mencelakai barisan Rasul. Maka disaat itu, turunlah ayat-ayat Al Lahab.

"Bismillahirrahmanirrahim.
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Kelak dia akan masuk ke dalam api (neraka) yang bergejolak.
Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.
Yang lehernya ada tali dari sabut."

Diserukanlah ayat-ayat itu didepan Abu Lahab beserta istri dan kaumnya, hanya berbatas api. Sebuah vonis neraka untuk Abu Lahab dan istrinya, jelas sudah dalam surat Al Lahab. Tapi Abu Lahab dan istrinya tidak meng-iman-i juga tak mendapat petunjuk. Allah Maha Berkehendak. Dibutakanlah akal Abu Lahab. Misal saja pada waktu itu Abu Lahab diberi akal sedikit saja dengan pura-pura masuk Islam, tentu saja akan mematahkan bukti ke-Rasul-an karena ayat dalam Al Qur'an yang disampaikannya tidak sesuai. Atau jika seandainya setelah ayat-ayat ini turun kemudian Abu Lahab benar-benar masuk Islam sebelum meninggal, maka tentu saja ayat-ayat tersebut batal.
Dengan kata lain, vonis neraka untuk Abu Lahab "harus direvisi" lantaran sudah masuk Islam.

Tapi begitulah Allah, yang tentu saja Maha Mengetahui segala yang belum terjadi. Wahyu dari Allah tidak pernah salah dengan terbukti hingga akhir hayatnya Abu Lahab tetap mati dalam keadaan kafir.
Dialah orang yang jelas dinyatakan masuk neraka meskipun ketika ia masih hidup. Itulah salah satu bukti bahwa Allah berkehendak menampakkan takdir Abu Lahab kepada umatnya. Sementara itu, Allah tidak menampakkan takdir para penyerang Rasul lainnya, misal Abu Sufyan yang pada waktu yang sama dengan Abu Lahab, juga memerangi Rasul. Sekomplotan. Tidak ada vonis neraka untuknya. Terbukti, setelah sekian lama Abu Sufyan memerangi Rasul, bahkan memerangi di perang Badar dan Uhud, ternyata akhirnya Abu Sufyan masuk Islam.
"Laa ilaaha ilallah. Muhammadurasulullah"

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Wallahu'alam

Catatan Jum'at Sore
Masjid Al Mujahidin Pamulang, 22-11-2013

Senin, 27 Mei 2013

Hanya Aku dan Tuhanku yang Tahu


"Engkau tahu, duhai tetes air hujan, kering sudah air mata, tidur tak nyenyak, makan tak enak, tersenyum penuh sandiwara, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya.
Engkau tahu, duhai gemerisik angin,kalau boleh, ingin kutitipkan banyak hal padamu, sampaikan padanya sepotong kata, tapi itu tak bisa kulakukan, biarlah Tuhan melihat semuanya.
Engkau tahu, duhai retakan dinding,sungguh aku tak tahu lagi berapa dalam retaknya hati ini, besok lusa, mudah saja memperbaiki retakanmu dinding, tinggal ambil semen dan pasir, tapi hatiku, entah bagaimana merekatkannya kembali, tapi biarlah Tuhan menyaksikan semuanya."
Terpikir olehku, harusnya ini semua tidak terjadi jika aku tidak jatuh hati kepadamu, tak perlulah aku sekarang sakit hati.
Tak ada yang tahu, mengapa masalah ini sangat mencekikku. Separuh hatiku habis sudah. Dan aku harus melanjutkan hidupku dengan sisanya. Bahkan, aku merasa menyesal harus mengenal, berurusan, dan harus ada sepotong kisah menyakitkan nurani ini, juga ketidakmampuanku membentengi diriku dari semunya harapan.
Dulu hidupku baik-baik saja. Aku menikmati semua yang aku raih. Tapi sekarang, separuh hatiku habis. 2 tahun seakan tak berarti.
Kau harus tahu, hatiku adalah kaca yang kaupecahkan. berantakan, dan tak akan pernah kembali utuh. Dengan seperti itulah aku melanjutkan hidupku dan hanya Tuhanku yang Tahu.
Duhai urusan perasaan. Ketika seseorang berhenti menangis karenanya, maka beberapa saat kemudian, tentu saja airmatanya akan kering di pipi, isaknya akan hilang disenyap, seperti tidak ada lagi sisa tangisnya di wajah juga tiada lagi mata berkaca-kaca. Tetapi tangisan itu tetap tertinggal di hati. Kesedihan, rasa sakit, kesendirian, beban yang membekas.
Boleh jadi sebentar, boleh jadi selamanya.
Wahai kawan,mungkin tulisan ini terdengar lebay. Jika engkau ingin tertawa,tertawalah... semoga suatu saat Allah membuatmu untuk mengerti.

Selasa, 23 April 2013

cause the life I had before


You could be my unintended Choice to live my life extended. You could be the one I’ll always love. You could be the one who listens to my deepest inquisitions. You could be the one I’ll always love. I’ll be there as soon as I can. But I’m busy mending broken pieces of the life I had before. First there was the one who challenged All my dreams and all my balance. He could never be as good as you. You could be my unintended Choice to live my life extended. You should be the one I’ll always love. I’ll be there as soon as I can. But I’m busy mending broken pieces of the life I had before. I’ll be there as soon as I can. But I’m busy mending broken pieces of the life I had before. Before you.

Minggu, 17 Maret 2013

itukah caranya?



ya Allah,,benarkah alasan ibunya tak menerimaku karena aku bukan orang sekota dengannya? sudahkah berbeda jauh? ataukah karena alasan lain? untuk menjaga perasaanku saja? tanpa melihat bertemu denganku pun ya Rabb?

jika memang dia masih menganggapku, mengapa dia memutus silaturahim denganku baik dunia nyata maupun maya?
jika memang mau jujur saling terbuka, mengapa dia menutup aksesku kepadanya sementara dia kepadaku tidak?
jika memang dengan memblokirku niatnya untuk tidak memikirkan aku, benarkah itu dia sadar bicara? bukankah itu berarti dia berusaha melupakanku?
jika memang dia berjuang untukku, menunggu luluh hati ibunya, mengapa dia justru menceritakan kekuranganku dan kejelekanku tentang hal yang sebenarnya kurang pantas diceritakan pada orang tua? itukah usahanya untuk meminta restu??? itukah yang dia namakan perjuangan???
jika memang dia menjaga perasaanku, mengapa setiap kedatangannya menceritakan perkenalannya dengan pilihan-pilihan ibunya/bapaknya/pakdhenya/budhenya/buliknya/pakliknya? padahal aku mampu menolak perjodohan2 dari bulikku...dan dia tahu..
apakah saya boleh mengharapkannya? seperti semacam antri menunggu barangkali saya ini pilihan terakhirnya?
jika memang hanya aku satu-satunya, mengapa bukan hanya aku yang dikunjunginya?
jika memang dia masih berjuang untukku, mengapa dia bilang "saya manut ortu aja dik"? apakah itu kalimat biasa? yg mudah dia lupakan? bukankah itu berarti bahwa dia tidak memilihku? dan mengapa kalimat itu bagiku terlalu cepat keluar dan disaat dia mengunjungiku dirumahku yang di plosok desa dengan keadaan jauh berbeda dengan dirinya? tahukah dia aku merasa terbuang dalam sedih dan di tengah-tengah cobaan saat itu?
jika memang dia hanya menginginkan aku dan memintaku untuk menunggunya,mengapa dia memintaku untuk jangan berharap banyak padanya?
ya Rabb, dia punya kemauan untuk mencarikan tiket mudik bersama wanita lain, padahal kepadaku tidak..dia hanya menantangku mau memubadzirkan tiketku atau tidak? Kau tunjukkan hamba apa ya Rabb? benarkah memang dia lebih mencintainya?
jika memang dia membatasi diri dengan wanita lain mengapa dia justru berdua ----sampai rumah? padahal jika itu yang melakukan adalah aku maka tidak ada maaf bagiku dan selalu menjadi buah bibir alasan untuk meninggalkanku?
itukah cinta yang pernah dia nyatakan ?
itukah caranya ?
itukah dirinya ?

Mudah Saja


Tuhan.. aku berjalan menyusuri malam setelah patah hatiku..
aku berdoa semoga saja ini terbaik untuknya
dia bilang: kau harus bisa seperti aku,yang sudah biarlah sudah.
mudah saja bagimu,mudah saja untukmu andai saja cintamu seperti cintaku.
selang waktu berjalan kau kembali datang tanyakan keadaanku.
kubilang:kau tak berhak tanyakan hidupku, membuatku semakin terluka.
mudah saja bagimu, mudah saja untukmu coba saja lukamu seperti lukaku,
kau tak berhak tanyakan keadaanku
kau tak berhak tanyakan keadaankuuuuuuu

Senin, 04 Februari 2013

Suami-Suami yang (Pandai) Menuntut


Senin siang itu, Daily Hadits di sebuah kantor memasuki bab Hak Suami Atas Istri. "Istriku kemarin berdosa padaku," komentar seorang suami selepas mendengar hadits bahwa istri yang menolak ajakan suaminya dilaknat malaikat hingga pagi. "Mengapa?" tanya temannya sambil menemani meninggalkan mushala. "Karena ia menolak ajakanku malam itu," jawabnya. "Kau sudah memaafkannya?" Tidak ada jawaban hingga keduanya berpisah, masuk ke ruang kerja masing-masing. Seringkali manusia tidak proporsional dalam memandang kehidupan dan menyikapi permasalahan di dalamnya. Termasuk laki-laki, dalam bab hak dan kewajiban suami istri. Seperti penggalan kisah di atas. Dan itu bukan satu-satunya kasus. Tentu hadits yang disampaikan lewat speaker mushala itu benar. Namun mengapa justru pemahaman yang diambil adalah "justifikasi" atas egoisme yang selama ini ada dalam diri. Setidaknya, mengapa ada suami –sadar atau tidak- yang suka jika istrinya berdosa? Kalau memang salah, bukankah lebih baik jika dibimbing dan dimaafkan? Bukan dimasukkan dalam daftar hitam dibalut dendam. Ini renungan bagi kita semua. Para suami. Terlebih jika istrinya seperti istri lelaki dalam kisah di atas; bekerja. Bukankah itu berarti istri telah membantu suami meringankan kewajibannya? Dengan berlelah-lelah turut mencari nafkah. Lalu di rumah ia harus mendidik putra-putrinya. Tanpa khadimat, ia pula yang menangani hampir semua urusan domestik; membersihkan rumah, mencuci, menyetrika. Dengan agenda kegiatan harian sebanyak itu, wajar jika pada hari-hari tertentu istri keletihan. Lelah. Maka, dalam kondisi demikian kadang-kadang istri menolak "ajakan" suami. Tentu berbeda jika penolakan itu selalu terjadi atau sering dilakukan istri. Yang lebih parah, jika tanpa alasan. Dalam kondisi ini suami layak marah. Dan jika suami marah, "malaikat melaknat istri itu hingga pagi." Marilah kita berkaca pada diri Nabi. Suami ideal yang telah mensabdakan hadits itu. "Beliau biasa menjahit pakaiannya," kata Aisyah istri tercinta, "menjahit sandalnya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan kaum laki-laki di rumah." Maka bagi suami yang suka menuntut istri, sudahkah ia memberikan hak kepada istrinya juga? Sebab bagi suami egois, yang ada adalah menuntut dan meminta. Menuntut agar istrinya tampil cantik, sedangkan ia tak pernah bercermin. Menuntut istrinya selalu rapi di hadapannya, sementara ia sendiri tidak memperhatikan betapa awut-awutan rambutnya. Menuntut istri menyediakan makanan-makanan lezat, sedangkan uang belanjanya tak cukup memenuhi permintaannya. Memarahi istri saat tidak memenuhi ajakannya, sementara ia tak pernah merespon ketika istri membutuhkan dan memberi isyarat padanya. Bisa jadi salah satu sebab itu terjadi adalah karena kurang pahamnya suami istri akan hak dan kewajiban masing-masing. Kurang komprehensif dalam memahami tuntunan Islam, hanya mengambil setengah-setengah. Sebagian. Melupakan sebagian lainnya. Apalagi jika yang dipahami adalah haknya saja. Misalnya karena suami hanya membaca buku "Kewajiban Istri dan Hak Suami" sedangkan istrinya justru membaca, "Kewajiban Suami dan Hak Istri." Jadilah keduanya saling menuntut. Bukan saling memahami. Alangkah indahnya jika suami istri saling memahami, saling mencintai, saling berbagi dan saling meringankan beban. Seperti kata Ali, "Demi Allah, aku selalu menimba air dari sumur hingga dadaku terasa sakit," lalu dengan penuh cinta Fatimah menimpali, "Dan aku, demi Allah, memutar penggiling gandum hingga tanganku melepuh." Wallaahu a'lam bish shawab.[Muchlisin]http://www.bersamadakwah.com/2011/03/suami-suami-yang-pandai-menuntut.html

Jumat, 09 November 2012

sebersit tanya dari 1000 tanya

Apa salahku? ketika mungkin perangaiku tidak disukai, akupun rela... aku tidak akan mengejar, karena aku wanita.. karena tuturnya yang lembut, kata cinta yang sayup-sayup hingga masuk ke hati yang paling dalam... tanpa ada yang meminta dan diminta... :''( saat itu... tapi seiring bergantinya waktu, berganti pulalah semuanya... aku tak pernah tahu apa yang terjadi padanya..hingga dirinya menghilang di dunia nyata dan maya-ku...tahukah dia selama itu apa yang terjadi padaku? galau dan sedih berkepanjangan..ada yang hilang dalam hidupku yang kupercayai itu adalah kedamaian dan bahagia.. senyum tenangnya tiada kutemui lagi... sejuta tanya dalam hatiku, apakah ia sudah menemukan bidadarinya? menyetujui perjodohan ibunya? Ya Rabb, hamba sudah cukup ikhlas jika itu yang terjadi..asalkan dia bahagia.. :'') karena mungkin saya tak bisa hidup dalam cinta yang terbagi dan tanpa ketulusan... ya Rabb,hamba merasa cintanya padaku hanya sebatas kekagumannya pada salah satu yang Kau anugrahkan padaku sebagai kelebihan, namun tidak untuk kekuranganku..itukah energi terbesarku untuk mengikhlaskannya ya Rabb? Ya Rabb, hanya Engkau yang Tahu sebenarnya...apa saja yang telah kucegah dan kuperjuangkan yang mungkin tak berarti baginya..bahkan seakan demi mengejar cintanya, hamba telah menjadi orang jahat yang tega berulang kali menyakiti hati orang yang tulus kepadaku, dalam sadarku, dalam kesengajaanku. tapi semua itu tak berarti ya Rabb..mungkin lebih karena sayalah yang tidak berarti baginya.. :"| pantas dilupakan dan tak pantas diingat.. aku tak berarti ya Rabb..

Kamis, 06 September 2012

Untuk Apa dan Siapa???


untuk apa meninggalkan kampung halaman? untuk apa meninggalkan keluarga dirumah? untuk apa menghimpun tenaga lalu bekerja kian capek? untuk apa berangkat pagi pulang petang? untuk apa berperang dengan kemacetan jalan raya? untuk apa mengenyam hiruk pikuk yang tanpa henti? untuk apa ??? ya? untuk apa mengumpulkan uang? atau harta atau apalah namanya? untuk apa semua itu tanpa orang yang kita cintai???? untuk siapa??? betapa indahnya pengorbanan jiwa raga yang letih meski hanya untuk sebuah senyum dari orang yang kita cintai. bukan besarnya materi,tapi jalan halal bernilai jihad, qonaah, zuhud dan cinta karena Allah lah yang membesarkan rasa bahagia itu.

Rabu, 29 Agustus 2012

Mungkin Hanya Aku Saja yang Begini


kadang sejenak ingat, akan sesuatu yang harusnya bukan hak-ku untuk kufikirkan..
ingat akan kata mereka, mereka yang orang-orang baik..
mungkin benar kata mereka,
mungkin hanya aku saja yang terlalu kepedean..
mungkin hanya aku saja yang berlebihan menanggapi yang sebenernya hanyalah candaan..
mungkin hanya aku saja yang salah sangka atas kebaikan seseorang kepadaku..
mungkin hanya aku saja yang berharap..
mungkin hanya aku saja yang menanti..
lebih-lebih..
mungkin hanya aku saja yang menangis.
ini sering kufikirkan, tapi mengapa lebih sering kuabaikan..
oh mengapa..mereka yang berkata lugas justru tak dapat kuterima..
sementara yang dengan kalimat ambigu justru kufikirkan, bahkan kujadikan tolok ukur perasaan..
oh mengapa ya Rabb..
disaat hamba benar-benar tak lagi memandang lebih sisi-sisi duniawi, Engkau patahkan hati hamba dengan sosok pelengkapku disana?
disaat hamba tak lagi membutuhkan apa-apa kecuali bekal untuk mati, Engkau patahkan hati hamba dengan sosok penyeiring langkahku disana?
beri hamba alasan ya Rabb, mengapa Kau-minta hamba belajar sendiri tentang semua ini?

Selasa, 10 Juli 2012



Ya Rabb, bukanlah karena hamba tak percaya Engkau Maha Mendengar, lantas kami mengadu padamu dengan tulisan.

Minggu, 24 Juni 2012

Ahad Sore, 24 Juni 2012


setelah hari itu, Ahad (Minggu), 24 juni 2012 Masehi, aku tidak lagi penasaran.
terimakasih Ya Rabb,telah Kau beri aku kesempatan untuk melihat kenyataan dari bayangan2ku selama ini. Hingga saya sadar, saya salah. dan lebih salah jika saya nekat merasa benar.
bukan hak-ku. ya! bukanlah sekalipun.
Tapi tiba-tiba saya ingat, ada surat yang dulu disebut 'surat untuk calon ibu mertua', yang saya bingung untuk kemanakah saya mengirimkannya..
lucu, saya mengingatnya..
justru, saat itu hatiku bicara, "Ibu, maafkan saya yang telah masuk ke dalam hidup anakmu...saya-lah yang memang harus pergi..."
tapi Ya Rabb, ijinkan aku menangis mengingat semua itu, untuk merasa bahwa memang hanya Engkau-lah yang Maha Kuat.
ya Rabb, daku serahkan padamu bagaimanapun caraMU membahagiakanku...

Selasa, 19 Juni 2012

TAKDIR

Apabila dua orang telah digariskan untuk dapat hidup bersama... maka...
sejauh apapun mereka...
sebanyak apapun rintangan yang menghalangi...
sebesar apapun beda diantara mereka...
sekuat apapun usaha dua orang tersebut untuk menghindarkannya...
meski mereka tidak pernah komunikasi sebelumnya...
meski mereka sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya...
meski mereka tidak pernah saling bertegur sapa...
PASTI tetap saja mereka akan bersatu....
seakan ada magnet yang menarik mereka...
akan ada hal yang datang...untuk menyatukan mereka berdua....
akan ada suatu kejadian...yang membuat mereka saling mendekat...dan akhirnya bersatu...
namun...
apabila dua orang telah ditetapkan untuk tidak berjodoh...
maka...
sebesar apapun usaha mereka untuk saling mendekat...
sekeras apapun upaya orang disekitar mereka untuk menyatukannya...
sekuat apapun perasaan yang ada diantara mereka berdua...
sebanyak apapun komunikasi diantara mereka sebelumnya...
sedekat apapun...
PASTI...akan ada hal yang membuat mereka akhirnya saling menjauh...
ada hal yang membuat mereka saling merasa tidak cocok...
ada hal yang membuat mereka saling menyadari bahwa memang bukan dia yang terbaik....
ada kejadian yang menghalangi mereka untuk bersatu...
bahkan ketika mereka mungkin telah menetapkan tanggal pernikahan...
namun...yang perlu dicatat disini adalah...
yakinlah...bahwa yang diberikan oleh Allah...
yakinlah...bahwa yang digariskan oleh Allah...
yakinlah...bahwa yang telah ditulis oleh Allah dalam KitabNya..
adalah...yang terbaik untuk kita....
adalah....yang paling sesuai untuk kita...
adalah...yang paling membuat kita merasa bahagia,,,,
karena Dialah...yang paling mengerti kita...lebih dari kita sendiri...
Dialah...yang paling menyayangi kita...
Dialah...yang paling mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita...
sementara kita hanya sedikit saja mengetahuinya...dan itupun hanya berdasarkan pada persangkaan kita...
dan....yang perlu kita catat juga adalah...
Jika kita tidak mendapatkan suatu hal yang kita inginkan...
itu bukan berarti bahwa kita tidak pantas untuk mendapatkannya....
namun justru berarti bahwa...kita pantas...
kita pantas mendapatkan yang lebih baik dari hal tersebut...
kita pantas mendapatkan yang lebih baik...saudaraku....
lebih baik....
meskipun saat ini...mata manusia kita tidak memahaminya...
meskipun saat itu...perasaan kita memandangnya dengan sebelah mata...
meskipun saat itu...otak kita melihatnya sebagai sesuatu yang buruk....
Tidak...jangan terburu-buru menvonis bahwa engkau telah diberikan sesuatu yang buruk....bahwa engkau tidak pantas....
karena kelak...engkau akan menyadarinya...
engkau akan menyadarinya perlahan...bahwa apa yang telah hilang darimu....bahwa apa yang tidak engkau dapatkan....bukanlah yang terbaik untukmu...bukanlah yang pantas untukmu...bukanlah sesuatu yang baik ,,,,untukmu....
perbanyak bekalmu...dan doamu...
yakinlah...bahwa Allah yang akan memilihkan yang terbaik untukmu...
amien.....Allahumma Amin... by Septian Kazan
https://www.facebook.com/notes/septian-kazan/takdir/10151166959073082

Rabu, 09 Mei 2012


Saat hati dalam penguasaan diri, setelah dugaan disusul dengan sedikiiiittt kenyataan, kadang ingin menutup kedua telinga, rapat rapat. lalu dengar bisikan dari Rabb yang Maha Lembut. Bisikan-bisikan kecil itu seperti gerimis, perlahan jatuh, satu satu. owh, setelah itu, aku tahu apa yang menyebabkan aku merasa bahagia. aku tidak menjadi orang yang bukan diriku. Lebih mudah kutangani karena aku tau diriku.

Jumat, 13 April 2012

Pu-239 (a film by Scott Z. Burns)

Film ini nuklir banget...

Timofey Berezin (Paddy Considine), seorang pekerja pabrik nuklir di Rusia, terkena radiasi dengan dosis berat mencapai 1000 rem. Diberhentikan dari tempat kerjanya tanpa mendapatkan pesangon atau kompensasi yang layak karena pimpinannya yang mengelak bahwa Timofey menerima dosis 1000 rem, dan menganggap Timofey hanya menerima dosis 100 rem. Timofey kebingungan bagaimana dia dapat menghidupi istri, Marina (Radha Mitchell) dan anaknya, Tolya yang masih berusia 7 tahun. Putus asa, Timofey pun nekad mencuri Pu-239 (plutonium) yang merupakan isotop yang dapat digunakan untuk membuat bom nuklir. Dia berbohong kepada istrinya bahwa dia mendapatkan panggilan kerja di Moskow, padahal dia ingin menjual Pu-239 curiannya itu dengan harapan dapat mendapatkannya dengan harga yang tinggi.

Di Moskwa, Shiv (Oscar Isaac), seorang kriminal tanggung, juga berupaya mencari uang untuk anaknya dan juga memenangkan kembali ibu dari anaknya. Segala gerak-gerik Shiv sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia tega melakukan kejahatan yang direncanakannya bersama-sama dengan dua kriminal lainnya. Atas kesalahan yang mereka lakukan, Shiv harus membayar ganti rugi kepada bos mafia di Moskwa, Tusk, dalam jangka waktu sehari. Apabila tidak mampu membayar, maka nyawa Shiv akan melayang.

Kedua laki-laki putus asa ini, Shiv dan Timofey, bertemu secara tidak sengaja di sebuah pasar di Moskwa, di mana Timofey dengan pasrahnya mempromosikan Pu-239 kepada Shiv, preman pasar yang mencoba mengusirnya. Awalnya Shiv menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Timofey adalah omong kosong belaka. Namun, karena dia juga sedang dalam keadaan terdesak dan butuh uang secepatnya, maka ia 'membantu' Timofey untuk menjual plutonium tersebut. Transaksi demi transaksi dilakukan hanya untuk mendapatkan bogem mentah di muka Shiv. Mereka berdua pun semakin putus asa dan hampir menyerah.
Bahkan ketika mereka sedang menemui seorang penjahat yang akan membeli plutonium itu, Shiv justru mendapati istrinya menjadi "pelayan" penjahat yang sedang main tenis itu. Shiv hancur luar dalam sementara Timofey berjalan pergi dengan badan lemahnya. Shiv mengejar Timofey dan tetap memaksa Timofey untuk "berjuang" menjual Plutonium itu kepada orang lain yang juga penjahat.
Namun sesampai mereka di tempat pesta penjahat yang hendak membeli plutonium itu, Shiv justru ditembak mati oleh penjahat itu. Timofey yang mengaku hanya pengunjung pestanya lolos takterbunuh dan menyeret mayat Shiv dengan lemah. Ketika timofey berjalan lemah dengan kata2 "aku harus pulang kerumah" ada 2 preman kejam yang memaksa mengajaknya. Timofey tak menghiraukannya dan akhirnya ia tertembak mati. Dua penjahat itu merampas tas timofey, memeriksa tubuh Timofey dan mendapatkan selongsong silinder kecil didadanya. Mereka menertawakan tas Timofey yang berisi kupu-kupu dalam kotak kado yang akan diberikan untuk anak tercinta Timofey.
Mereka lalu penasaran dengan silinder yang dirampasnya dari Timofey, lalu membukanya yang tiba-tiba tumpah serbuk putih ke meja. Mengira serbuk itu adalah shabu, mereka dengan segera menghirup dan menelan serbuk itu. Namun malang, serbuk itu adalah Plutonium-239.

Waktu sudah hampir habis dan tanpa sadar film ini sudah berakhir. Jangan mengharapkan akhir yang riang gembira atau disematkannya tanda jasa bagi kedua laki-laki itu. Yang jelas, film ini akan membuat penonton, meskipun mungkin sedikit kecewa dan mengutuk, juga akan menemukan suatu bahan renungan bahwa dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan, kita harus melihat dampaknya tidak hanya kepada orang-orang terdekat, tapi kepada seluruh dunia.

Timofey dan Shiv dipertemukan oleh takdir, sebagai dua sosok ayah yang sangat mencintai anak mereka masing-masing yang masih kecil. Dua figur orangtua yang putus asa memikirkan bagaimana memberikan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Namun, ternyata prinsip i'd trade the world for you rasanya tidak ada di dalam film ini, atau setidaknya, dalam kasus Timofey tidak terwujud dengan sempurna. Dia mengetahui dengan pasti bahwa menjual Pu-239 di black market bukanlah solusi yang tepat bagi masalahnya, terlebih dia juga menyadari bahwa memberikan bahan bom nuklir ke tangan yang salah, demi menghidupi keluarganya, sama saja dengan membunuh mereka. Sebesar apapun cinta Timofey kepada anak dan istrinya, ia tidak sanggup menukar kedamaian dunia untuk mereka. Kedamaian dunia? Utopis? Tapi, tidak ada salahnya bukan untuk berharap dan bermimpi? Selain itu, dalam lubuk hatinya, Timofey juga pasti percaya bahwa istri dan anaknya akan berupaya sekuat mungkin untuk bertahan hidup. Siapa tahu mereka akan membuat dunia menjadi lebih baik?

Film ini hanya berdurasi 97 menit dan sarat akan adegan serta ekspresi yang mengharukan dan dialog yang indah namun sedikit membingungkan he he. Meskipun kehadiran dua kriminal, rekan Shiv, kerap memancing gelak tawa. Sedikit aneh memang film ini karena membagi porsi komedi, kekerasan, dan kesedihan. Seperti di saat merasakan yang satu, penonton seperti merasa bersalah karena tidak merasakan emosi yang lain. Film yang aneh tetapi sayang untuk dilewatkan begitu saja, menurut saya.

"The Half Life of Timofey Berezin" disutradarai oleh Scott Z. Burns, berdasarkan cerita pendek karangan Ken Kalfus berjudul 'Pu-239' dari buku "Pu-239 and Other Russian Fantasies".

Selasa, 03 April 2012

kamu..yang sendiri

Kamu, sendiri?
Ya, saya tahu itu. Saya juga tahu itu tak mudah untuk tetap dalam pendirianmu.
Tapi ingatlah, janganlah kau jadikan kesepianmu sebagai ijin untuk berbuat kesalahan. Lalu janganlah kamu mengobati kesendirianmu dengan yang bukan baik (halal) bagimu,karena itu adalah racun yang sebenarnya.
Buka matamu untuk melihat karunia-NYA yang indah saat ini berupa kesendirianmu. Nikmati dengan langkah2 pasti menuju cita-citamu di masa depan dan akhirat!
Jangan seperti orang yang berjalan mundur dengan mata tertutup.
waktu akan terus berjalan sampai suatu waktu yang disebut "deadline". jika tidak kau bertahan dalam kebaikan, apakah kau yakin dipanggil olehNYA dalam kebaikan???
Ingat, niat menjauhi kemudharatan itu ibadah.Semua kesibukanmu yang kaulakukan karena cita-cita baikmu juga ibadah.
Lantas apa yang membuatmu tidak menyibukan dirimu dalam kebaikan?
yakinlah, hanya orang baik yang akan tertarik dengan kesendirianmu yang indah.
Karena seseorang untukmu itu adalah yang memperbaiki dirinya untukmu, maka perbaikilah dirimu..