Rabu, 19 Oktober 2011

Cerpen : Musuhku Adalah Diriku

Musuhku Adalah Diriku

Awalnya, kauucapkan kalimat itu dengan bahasa yang cukup susah dimengerti orang dewasa sekalipun dan mungkin hanya beberapa dari mereka yang paham maksudmu. Di luar batas dugaanku, kaucoba jelaskan dengan lugas. Kau mengatakan bahwa kau mencintai wanita hanya karena Allah, dan wanita itu adalah aku. Ya!, aku yang menurut pengakuannmu, sudah kauamati sejak Orientasi Pegawai Baru.

Aku yang kaukenal lebih dekat saat Diklat kedua di Jakarta selama 2 minggu. Yang hari pertamanya kau duduk di bangku belakangku dan sapa pertamamu adalah “Ndary anak ke berapa?”.
Dan kujawab pertanyaan anehmu itu, “Anak terakhir, ada apa Mas Fakhru?”.
“Oh, anak terakhir, manja donk...”, kutukmu.
“Iya, memang...aku manja”, jawabku mengiyakan penilaian cepatmu.

Dan wanita itu adalah aku, yang kaukenal melalui pertanyaan-pertanyaanmu. Ikut pengajian dimana? Zakat gaji dimana? Saudaramu berapa dan ikut pengajian dimana?. Aku, yang kautanyai pendapat tentang musik dan nyanyian, cara berpakaian, dan banyak lagi.

Dan wanita itu adalah aku, yang mempunyai kalkulator dengan merk, type, harga, bungkus bahkan struk pembayaran sama denganmu. Aku, yang tak bisa menerima telfon darimu karena ponsel kita beda operator, kemudian memberi alasan lewat pesan singkat, “SMS aja, ndak usah telfon, mahal lho...”. Dan sejak saat itu, kau selalu menolak panggilan telfonku dengan menjiplak alasanku, “...Mahal lho...”.
Dan yang lebih jelas lagi, wanita itu adalah aku yang sangat sederhana, lahir dari keluarga di bawah batas biasa, anak seorang petani desa, tingkat pendidikan dan agama yang sangat biasa, dan kecantikanku tak pantas diperhitungkan.

Tapi ternyata wanita itu hanyalah aku. Hanyalah aku, meski ada beberapa wanita pilihan yang meminangmu, lewat surat merah jambu yang kubaca langsung atas ijinmu. Padahal diantaranya adalah sosok Khadijah yang akan menjadikanmu Muhammad-nya.
Akhirnya aku mengerti, terkejut, berbunga (Red: memangnya mawar?) campur sedih dan entah apalah namanya. Karena pada saat itu pula, kau juga mengatakan bahwa perasaan itu tak ada restu dari ibumu. Dengan alasan yang menurut orang lain dangkal, tapi menurut kita mengakar, aku tidak se-kota denganmu.

Tak cukup dengan menolak pilihanmu, ibumu juga mengajukan pilihannya untukmu. Seorang wanita pilihan dari tetangga se-RT, yang sudah pasti jauh dikenal ibumu daripada aku. Tapi berulang kali kaunyatakan padaku, hanya aku pelangimu. Pelangi yang jauh disana dan tak dapat kau meraihnya. Dan berulang kali kutegaskan, sungguh aku tak ingin menjadi pelangi sekalipun itu indah.

Ya, aku pun harus mulai belajar apa arti ridho orang tua yang dalam firman-Nya merupakan ridho-Nya. Dalam-dalam aku tanamkan kedalam benakku, bahwa aku tidak akan menjauhkan surga di telapaknya dengan dirimu.

Lepas dari masalah kedaerahan, sebagai seorang Guru Agama, pastilah pilihannya bukan sembarang pilihan. Dan di depan kaca semakin kupahami, bukan diriku!. Bukan diriku yang masuk hitungan ibumu. Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Dan derajat ketaatanlah yang membedakannya.

Anehnya, mengapa kita membiarkan harapan itu tetap ada. Dengan segala sifat semunya seakan kuat padahal lemah. Ya, seakan sekuat besi padahal selemah ranting kayu yang telah lapuk, yang siap patah kapan saja ketika ia jatuh. Bagaimana tidak? Kau selalu menyarankanku agar segera menikah, sementara kau tak rela. Kau mengajukan pria lain untukku sementara kau tak ikhlas.
“ Dik, Mas Abdi adalah laki-laki yang baik. Beliau siap menikah. Ayo Dik, nikah dengan Mas Abdi, biar aku tenang dan jelas harus melupakanmu....”, katamu seraya menjaga pandangan.
“Yakin nawarin Mas Abdi ke Ndary?! Yakin ikhlas?! Yakin rela?!”, kutukku sambil menatap matamu.

Tanpa jawaban kata-kata, dan hanya kutemukan air mata di wajahmu yang berusaha tegar. Aku tertawa dengan mata berkaca-kaca, kutahan dengan senyumku, tapi tak terbendung juga. Tidaaaaaakkkkkkk....seorang Ndary yang tomboi telah menangis!!!, terlebih kau, lelaki yang kukenal tabah selama ini.

“Apa Adik juga yakin nawarin Mbak Novi ke aku Dik? Yakin ikhlas? Rela??”, balasmu mengutukku.
“Aku ikhlas Mas, aku akan tetap datang di pernikahanmu. Percayalah, aku akan ikhlas.”, tegasku sambil mengusap air mata lalu memasang topeng ikhlas di wajahku.

Bahkan kau tetap mengunjungiku sekalipun aku sedang dikarantina di asrama diklat yang ketat dengan penjagaan petugas. Yang dengan alasan menjenguk istri, kau bisa masuk lalu bertemu denganku, di ruang tamu. Kemudian berjalan menuju warung bakso di seberang asrama. Kita berteduh di bawah payung kita masing-masing, karena kita tak mungkin sepayung berdua. Aku tahu batas itu, bukan mahram. Kaupakai payung biruku, dan kupakai payung merah muda yang kupinjam dari teman sekamar. Dan petugas yang berjaga di gerbang menyapa kita, “Silakan Pak, Bu...”. Aku rasa itu adalah kenekatanmu yang pertama. Kenekatan yang terukir dalam kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan. Dan mungkin saja kenangan itu benar-benar hanya akan menjadi sebuah kenangan belaka. Kita pernah bersama!.

Dan tahukah kamu, aku merintih lemah saat kautinggalkan asrama?!. Terasa berat kunaiki tangga ke lantai 2 dengan gemuruh di dada. Langkah kakiku melayuh tak bertulang. Bukan hanya karena aku merasa kehilangan sosok imamku. Tapi karena sebuah pertanyaan besar, “Untuk apa kita bertemu?!, bukankah tak ada jalan lagi untuk kita?!”.

Bahkan sepulangku dari asrama, kau tiba-tiba mengabariku lewat pesan via ponsel, “Dik, aku sudah menemukan kos mu, aku di depan, ke toko buku yuk...”. Tanpa syarat, akupun menerima ajakanmu dengan perasaan yang tak bisa kugambarkan. Meskipun dengan jalan kaki kemudian naik angkot, sementara motormu menganggur di garasi kamarku. Aku tidak protes, karena aku tahu batas. Kita bukan mahram.

Kau juga menyarankanku untuk membenahi jilbabku yang transparan sekalipun kita di pertengahan jalan. Beruntung saat itu kita segera mendapati warung makan yang menyediakan toilet, sehingga aku bisa menumpang berbenah jilbab selagi kau makan.
Ketika di toko buku, kubaca sisi lainmu yang tak pernah kukenal selama itu. Kau mengajakku bercanda dan berkhayal manis diantara tatanan buku yang rapi.
“Buku itu bagus ya Mas, beli satu buat ngajarin anakmu nanti...”, kataku sambil menunjuk ke arah buku anak yang ada di depanmu.

“Mana anakku? Masih di perutmu...hmmm...”, jawabmu sambil tersenyum menoleh ke arah perutku seolah-olah kita ini pasangan suami-istri yang sedang mempersiapkan kelahiran anaknya.
Dan kita hanyut dalam khayalan yang terlalu manis penuh kepalsuan itu. Tersenyum manja disaat kita bersama, meski harus menangis semalam ketika sadar bahwa kita tak mungkin bersama. Semua yang kita rasakan bahagia tak lain hanya kebohongan. Kebohongan pada diri sendiri. Tak aneh jika sepulangmu aku hanya bisa memaki-maki diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa menjauhimu, orang yang sudah jelas tak berpeluang menjadi separo agamaku!.

Aku mencoba berunding dengan akal sehatku. Dan aku menyimpulkan bahwa seharusnya kututup cerita ini dalam sepotong episode. Mengubur harapan dan menanami dengan rasa berkawan selamanya. Tapi lagi-lagi kita sama-sama tak mampu menutupnya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, namun menegaskan saja aku tak mampu. Pertemuan kita yang kuvonis sebagai pertemuan terakhir, masih saja disusul pertemuan-pertemuan selanjutnya. Entah mengunjungi toko buku lagi, membeli kacamata untukku, bahkan kau sempat merencanakan untuk survei rumah denganku. Sungguh, musuhku adalah diriku sendiri. Diriku sendiri yang membiarkan hatiku susah kukenali dan beberapa kali ragaku melarikan diri ke toilet. Apa hubungannya?

Tentu ada hubungannya! Karena apa???
Karena aku telah marah-marah kepada wastafel di toilet itu, melemparinya dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa aku harus membodohi akal sehatku dan kau harus mengeluarkan kalimatmu? Kalimat yang membuatku terbang tinggi dan menjatuhkanku ke bumi setelah itu. Mengapa? Mengapa aku plin-plan dengan kata ikhlasku? Ikhlas hanya ada di ujung bibir yang bohong dan tidak ikhlas di hati. Mengapa aku kalah dengan diriku?. Aku marah-marah sepuasku, menelan emosi itu bulat-bulat karena aku memang sendiri di depan wastafel itu. Tapi apa kata wastafel?

Katanya, “Ingat pesan Pak Haji Baiq!!! Sesungguhnya dia yang marah adalah dia yang lemah. Karena hanya orang yang lemah lah yang tak mampu membawa dirinya untuk tetap dalam batas kendalinya.”.
Aku hanya mengangguk tanpa perlawanan kepada si wastafel itu, karena apa? tentu saja karena aku ingin layak dibilang masih waras. Ya, sebab orang waras pasti bicara pada orang, bukan pada wastafel.

Aku tidak ingin menyaksikan kebodohan diriku itu lama-lama di depan kaca wastafel, jadi aku memutuskan untuk segera keluar dari toilet itu.

Innallahama’ashobirin...Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Ya, inilah aku yang sedang belajar praktek tentang sabar, entah ada berapa pokok bahasan.
Perlahan aku mulai paham, perdetik aku mulai mengerti dengan ditunjukkannya akun facebook yang terblokir. Kuberi jempol untuk diriku sendiri karena aku tak mungkin memberi jempol pada akun terblokir itu khan?

Aku ingat, itu janji yang akan kautepati jika pada waktunya kau tak tega melihat status-statusku bermunculan. Status-status patah hati, kekecewaan, kesedihan yang mendalam, kesepian yang mencekam, kerinduan yang merajang, dan ketidakmampuanku mengendalikan diriku. Ya, diriku yang menerima kabar bahwa kau segera menikah, melabuhkan penantianmu pada seorang wanita selain aku.

“Afwan Dik, hanya ingin men-tabayun-kan kalimat beberapa hari yang lalu (waktu kutelfon) yang masih mengganjal di pikiranku. Aku sempat mengucap kalau perasaan memang benar, aku mencintai Adik. Bahkan, lebih tak terbendung lagi sampai sekarang. Dan aku kemarin menunggu luluhnya hati Ibu, tapi kalau menikah tak bisa berharap banyak, itu artinya aku yang membatasi harapan itu karena takut terlalu mengecewakan. Karena kalau menikah tergantung iya/tidaknya orang tua. Dulu, jalan jodoh Ibu nurut dengan Eyang. Sebenarnya dulu Ibu menyukai orang lain, bukan Bapak.
Mungkin itu yang diberlakukan padaku sekarang. Afwan sekali Dik, insyaAllah, dalam hitungan bulan aku akan menikah dengan wanita pilihan Ibu. Bukan pilihanku. Demi Allah, sampai saat ini aku hanya mencintaimu. Mungkin keikhlasan kita sedang diuji Dik. Afwan Dik...”, ketikmu dalam pesan via ponsel yang menurutku bukan pesan singkat lagi, tapi cerita pendek.

“Barakallah Mas, undangannya ditunggu, insyaAllah aku akan memenuhi janjiku untuk tetap datang di acara pernikahanmu...”, jawabku singkat.

Ya Tuhan...ternyata Engkau benar-benar cepat mengabulkan doaku..

Kali ini aku tak marah-marah pada wastafel, tapi pada seorang wanita biasa yang merasa dirinya tegar. Kau tahu siapa?
Aku!

Dan aku tak punya alasan untuk menangis, karena ini memang doaku. Dengan begitu kaukerjakan separo agamamu dengan menikah karena Allah, juga bhakti pada orangtuamu. “Semoga kau bahagia Mas Fakhru”, kalimat yang selalu keluar dari batinku dimanapun aku berada. Di kamar penuh makanan yang tak kunjung kumakan. Di dalam mobil yang teman-teman kerjaku asyik bercanda ria. Di depan komputer yang seharusnya aku bekerja. Bahkan di kamar mandi yang seharusnya aku sibuk mengurus badan.

Ini keputusan yang sangat valid. Dengan begitu kau tak akan lagi mengingatku dan berharap akupun juga begitu, melupakanmu!. Tapi percayalah itu tak akan mungkin terjadi, terutama karena kita ini teman satu instansi.

Ya! Kita teman satu instansi. Yang semua teman-teman kita satu angkatan tahu bahwa kita saling menyukai. Hah...”menyukai”? kata yang sulit untuk kuakui di depan teman-teman dan terpaksa aku tulis dengan lugas untuk membuat orang lain mengerti isi sebuah cerita.
Selamat menempuh hidup baru Mas Fakhru.


6 komentar:

  1. itu tandanya ALLAH sudah mempersiapkan jodoh yang lebih baik untukmu dibandingkan lelaki itu kalau kalian memang benar-benar tidak berjodoh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yth. anonim,
      trima kasih atas commentnya..
      Ini cerita bukan 100 persen kisah nyata kok,hanya cerpen karya saya yg kmaren gag menang ikut kontes.. Jadi saya tampilin disini..

      Aamiiiin ya Rabbal 'alamin...smoga kita mendapat yg terbaik dariNya..

      Sekali lagi, Trima kasih lho ya atas commentnya.. ;)

      Hapus
    2. Saya salah satu teman keluh kesahmu mba. Saya hanya bisa bilang lebih baik kamu menjaga hatimu sampai nanti jodohmu datang daripada kamu sekarang mengotori hatimu yang suci karena perasaanmu telah dipermainkan oleh seseorang yang menurutmu baik. Seorang ikhwan tidak akan menyakiti hati wanita.

      Hapus
    3. anda siapa ya? sms donk kalau memang teman saya...heheee

      Hapus
  2. kok aq nangis ya...padahal wanita dicerita itu bukan aq....karena aq sahabat wanita itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang bikin nangis yang mana Mba nurul?
      -__-"

      Hapus